Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2019

Festival Panji Nusantara, Tampilkan Ragam Potensi Kesenian Jawa Timur

Festival Panji Nusantara memasuki kota terakhir di Jawa Timur, ragam potensi kesenian dihadirkan dalam kemeriahan pesta kesenian ini, mulai dari pameran visual, Budaya Panji, workshop, seminar, lomba dan seni pertunjukan dari 6 provinsi di luar Jawa Timur, yakni Bali, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Malang menjadi kota terakhir di Jawa Timur sekaligus penutup rangkaian Festival Panji Nusantara 2019. Setelah sebelumnya acara telah terselenggara di Amphitheatre Candi Penataran Kab. Blitar (9/7), Kabupaten Kediri dan Tulungagung (10/11). Khusus di Kota Malang, Pemerintah Kota juga menyelenggarakan beberapa lomba, yaitu Lomba Mewarna, Lomba Menggambar, Lomba VLog, Workshop Komik, dan Sinau Sejarah dengan tema Panji di Museum Mpu Purwa.

Acara dengan tema “Transformasi Budaya Panji” ini merupakan kerjasama Dinas Kebudayaan dan Provinsi Jatim, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia dalam platform Indonesiana, dan pemerintah Kota/Kabupaten yang menjadi tuan rumah acara tersebut, didukung oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto.

Dalam pernyataannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Sinarto, S.Kar, MM, menjelaskan bahwa Festival Panji kali ini merupakan kelanjutan dari Festival Panji Nasional 2017 di Kediri, berlanjut Festival Panji Internasional tahun 2018 di 8 kota di Indonesia, mulai dari Denpasar, Pandaan, Kota Malang, Kab. Blitar, Kab. Tulungagung, Kab. Kediri, berlanjut ke Yogyakarta dan berakhir di Jakarta.

Menurut rencana, Festival Panji Internasional akan diselenggarakan setiap 3 tahun sekali, diselingi Festival Panji Nusantara yang diadakan setiap tahun. Berarti tahun 2020 nanti masih Festival Panji Nusantara, jelasnya.

Festival Panji Nusantara adalah satu dari 19 festival yang masuk dalm dukungan platform Indonesiana. Dukungan tersebut termasuk membentuk Tim Kurator dan Tim Pelaksana dari pihak pelaku seni, sedangkan pihak pemerintah daerah berposisi sebagai fasilitator.

Platform Indonesiana adalah inisiatif dan upaya yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk mendorong, sekaligus memperkuat upaya Pemajuan Kebudayaan sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun 2017 melalui gotong royong antara pemerintah dan masyarakat dalam penguatan kapasitas daerah untuk menyelenggarakan kegiatan budaya sesuai azas, tujuan, dan objek pemajuan kebudayaan yang ditetapkan dalam UU No. 5 Tahun 2017.

Melalui pendukungan pada kegiatan-kegiatan berbasis budaya diharapkan dapat menumbuhkembangkan ekosistem kebudayaan yang mengakar kuat pada kearifan-kearifan lokal Indonesia. Dengan berlangsungnya ekosistem kebudayaan yang berkesinambungan, secara jangka panjang diharapkan dapat memastikan kelestarian dan keberlangsungan khazanah budaya di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang dinamis.

Sabtu, 19 November 2016

Dua Dalang Wayang Golek Cilik Asal Banten Pentas Di Festival Dalang Bocah Tingkat Nasional

Tiga Gunungan ditancapkan, kemudian munculah sosok kera putih, ia terlihat memanjat masing-masing gunungan dan kemudian menghilang. Begitulah penggalan adegan wayang Golek Purwa yang dipentaskan oleh Mohammad Armin (10) dalam rangkaian Festival Dalang Bocah 2016. Ini adalah hari ketiga rangkaian acara yang sudah dibuka pada Kamis (17/11) lalu.

Pada hari kedua, pementasan dibuka oleh lakon Anoman Duta yang dibawakan oleh perwakilan peserta dari Banten, Mohammad Armin. Armin, begitu bocah cilik itu biasa disapa, menuturkan bahwa dirinya senang sekali menjadi pembuka acara di hari kedua. “Saya belajar dalang dari umur dua tahun, dan sudah mentas di usia tiga tahun,” tuturnya dalam wawancara usai pementasan.

Perwakilan dari Banten lainnya bernama Raden Muhammad Rapi Fathan (15), siswa SMPN 9 Tangerang ini tampil membawakan lakon Gatutkaca Lahir. Fathan, begitu ia biasa disapa menuturkan, menjadi dalang tidaklah sulit, asal tekun dan tetap pada kecintaan terhadap seni pedalangan. Ia pun memberikan pesan kepada setiap anak-anak yang ingin menjadi dalang agar tetap pada pendiriannya hingga dewasa untuk melestarikan nilai budaya.

Acara Festival Dalang Bocah 2016 ini akan terus digelar hingga tanggal 20 November 2016. Setiap harinya acara ini menampilkan dalang-dalang muda dan dalang anak-anak dari seluruh daerah di Indonesia.

Selasa, 11 November 2014

Kongres Kebudayaan Jawa 2014

Kongres Kebudayaan Jawa digelar untuk pertama kali setelah zaman kemerdekaan di Solo pada 10-13 November 2014. Acara yang diikuti 503 utusan dari berbagai daerah dibuka di kampus ISI Surakarta dan kongresnya dilangsungkan di Hotel Lor In.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan membuka acara tersebut. Ketua Panitia, H. Mardiyanto pun mengemukakan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Gubernur Jatim Soekarwo, dan mantan Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo akan menjadi pembicara utama dalam acara itu.

”Dalam sejarah, sebelum kemerdekaan pernah diadakan acara ini pada 5-7 Juli 1918 yakni Congres voor Javaneche Cultur Antwikkeling di Surakarta. Bersama Yayasan Studi Bahasa Jawa (YSBJ) Kanthil, kami akan menyelenggarakan acara serupa yang pertama setelah era kemerdekaan,” ujar Mardiyanto dalam jumpa pers di Semarang. Mardiyanto menerangkan, ada 60 makalah yang akan disajikan dalam panel diskusi yang terbagi dalam empat klaster. Ia menginginkan, ada pemikiran reaktualisasi kebudayaan Jawa, agar generasi muda tidak kehilangan jejak.

”Perlu ada usaha pewarisan dan pelestarian dari generasi ke generasi, agar keprihatinan bangsa tentang kurangnya kepercayaan diri, kurangnya rasa harga diri, dan kurangnya jati diri bangsa, tumbuh kembali sebagai komunitas yang besar demi teraplikasinya bhinneka tunggal ika,” katanya.

Himpun Pemikiran
Sementara itu, Ketua Pelaksana Prof. Dr. Dr. Soetomo. WE, M.Pd menerangkan, tujuan acara tersebut di antaranya untuk menghimpun sejumlah pemikiran aktual dan sumbangsih, tentang hakikat kebudayaan Jawa bagi pembangunan bangsa. Juga untuk menyusun rencana strategis dan dinamis bagi para penentu kebijakan dan pengambil keputusan, dalam menempatkan kembali peran budaya Jawa.

”Selain itu juga untuk mengidentifikasi berbagai masalah mendasar dan menginventarisasi kebudayaan Jawa mana yang patut dikembangkan, mana yang cukup didokumentasikan, dan mana yang dilestarikan, dalam usaha pewarisan budaya dari generasi tua kepada generasi muda,” tandasnya.

Pembukaan dilaksanakan di kampus ISI, dan ditandai dengan penampilan-penampilan kesenian. Sedangkan untuk sidang-sidang diselenggarakan di Hotel Lor In.

Selasa, 06 September 2011

Kesenian Rampak Bedug Dari Banten

Bedug terdapat di hampir setiap masjid, sebagai alat atau media informasi datangnya waktu shalat wajib 5 waktu. Kata “Rampak” mengandung arti “Serempak”. Jadi “Rampak Bedug” adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa “banyak” bedug dan ditabuh secara “serempak” sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar. Rampak bedug hanya terdapat di daerah Banten sebagai ciri khas seni budaya Banten.

Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, persis seperti seni ngabedug atau ngadulag. Tapi karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual, sama dengan seni-seni musik komersial lainnya. Walau para pencetus dan pemainnya lebih didasari oleh motivasi religi, tapi masyarakat seniman dan pencipta seni memandang seni rampak bedug sebagai sebuah karya seni yang patut dihargai.

Fungsi Rampak bedug :

  • Nilai Religi, yakni menyemarakan bulan suci Ramadhan dengan alat-alat yang memang dirancang para ulama pewaris Nabi. Selain menyemarakan Tarawihan juga sebagai pengiring Takbiran dan Marhabaan.
  • Nilai rekreasi/hiburan.
  • Nilai ekonomis, yakni suatu karya seni yang layak jual. Masyarakat pengguna sudah biasa mengundang seniman rampak bedug untuk memeriahkan acara-acara mereka.

“Rampak Bedug” dapat dikatakan sebagai pengembangan dari seni bedug atau ngadulag. Bila ngabedug dapat dimainkan oleh siapa saja, maka “Rampak Bedug” hanya bisa dimainkan oleh para pemain profesional. Rampak bedug bukan hanya dimainkan di bulan Ramadhan, tapi dimainkan juga secara profesional pada acara-acara hajatan (hitanan, pernikahan) dan hari-hari peringatan kedaerahan bahkan nasional. Rampak bedug merupakan pengiring Takbiran, Ruwatan, Marhabaan, Shalawatan (Shalawat Badar), dan lagu-lagu bernuansa religi lainnya.

Di masa lalu pemain rampak bedug terdiri dari semuanya laki-laki. Tapi sekarang sama halnya dengan banyak seni lainnya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mungkin demikian karena seni rampak bedug mempertunjukkan tarian-tarian yang terlihat indah jika ditampilkan oleh perempuan (selain tentunya laki-laki). Jumlah pemain sekitar 10 orang, laki-laki 5 orang dan perempuan 5 orang. Adapun fungsi masing-masing pemain adalah sebagai berikut pemain laki-laki sebagai penabuh bedug dan sekaligus kendang sedangkan pemain perempuan sebagai penabuh bedug, baik pemain laki-laki maupun perempuan sekaligus juga sebagai penari.

Busana yang dipakai oleh pemain rampak bedug adalah pakaian Muslim dan Muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan. Pemain laki-laki misalnya mengenakan pakaian model pesilat lengkap dengan sorban khas Banten, tapi warna-warninya menggambarkan kemoderenan: hijau, ungu, merah, dan lain-lain (bukan hitam atau putih saja). Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari-tari tradisional, tapi bercorak kemoderenan dan relatif religius. Misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar kuning dan di dalamnya mengenakan celana panjang warna merah jenis celana panjang pesilat. Di Luarnya mengenakan kain merah tanpa dijahit yang bisa dililitkan dan digunakakan untuk semacam tarian selendang. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan memakai ikat pinggang besar. Adapun rambutnya mengenakan sejenis sanggul bungan yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.

Waditra adalah seni atau kesenian dari budaya jawa. Waditra rampak bedug terdiri dari :
  • Bedug besar, berfungsi sebagai Bass yang memberikan rasa puas ketika mengakhiri suatu bait sya’ir dari lagu.
  • Ting tir, terbuat dari batang pohon kelapa, berfungsi sebagai penyelaras irama lagu bernuansa spiritualis (takbiran, shalawatan, marhabaan, dan lain-lain).
  • Anting Caram dan Anting Karam terbuat dari pohon jambu dan dililiti kulit kendang berfungsi sebagai pengiring lagu dan tari.
Sejarah Rampak Bedug
Tahun 1950-an merupakan awal mula diadakannya pentas rampak bedug. Pada waktu itu, di Kecamatan Pandeglang pada khususnya, sudah diadakan pertandingan antar kampung. Sampai tahun 1960 rampak bedug masih merupakan hiburan rakyat, persis ngabedug. Awalnya rampak bedug berdiri di Kecamatan Pandeglang. Kemudian seni ini menyebar ke daerah-daerah sekitarnya hingga ke Kabupaten Serang.

Kemudian antara tahun 1960-1970 Haji Ilen menciptakan suatu tarian kreatif dalam seni rampak bedug. Rampak bedug yang berkembang saat ini dapat dikatakan sebagai hasil kreasi Haji Ilen. Rampak bedug kemudian dikembangkan oleh berempat yaitu : Haji Ilen, Burhata, Juju, dan Rahmat. Dengan demikian Haji Ilen beserta ketiga bersahabat itulah yang dapat dikatakan sebagai tokoh seni Rampak bedug. Dari mereka berempat itulah seni rampak bedug menyebar. Hingga akhir tahun 2002 ini sudah banyak kelompok-kelompok pemain rampak bedug.