Selasa, 08 Februari 2011

Wisata Kulineran di Pulau Jawa, Kota-Kota Mana Sajakah Yang Wajib Kita Kunjungi?

Keanekaragaman budaya Indonesia membuat negara kita sangat kaya. Banyak suku di Indonesia juga memastikan kita punya banyak makanan enak. Inilah sebabnya mengapa banyak pecinta kuliner di seluruh dunia lebih memilih datang ke Indonesia untuk mencari makanan tradisional dan lezat. Sebagai contoh, wilayah Jawa terkenal dengan rempah-rempah yang melimpah dengan berbagai rasa. Bagi pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba berbagai makanan tradisional. 


Jika Anda hobi tentang kulineran, Anda wajib mengunjungi enam kota di Jawa berikut ini.  Dari berbagai sumber, Makanan berat dan ringan bisa dinikmati di kota-kota ini.

1. Yogyakarta Menu yang bisa Anda cicipi sangat beragam. Mulai dari gudeg khas Yogyakarta, sate kodok, Hopia Pasque ( Bakpia Pathuk), Gorengan, Oseng, Gatot Gunung Kidul, Nasi Tiwul. Yogyakarta juga merupakan rumah bagi banyak restoran legendaris yang menjamin cita rasa otentik yang selalu dikejar oleh penduduk lokal dan wisatawan. Misalnya, Jalan Kauman di Yogyakarta meliputi Gudeg Mbah Lindu Sosrowijayan, Gudeg Pawon, Mangut Lele Mbah Marto dan Wedang Ronde Mbah Paiyem.

2. Surabaya Kota terbesar kedua di Indonesia ini juga kaya akan makanan lezat. Masakan Surabaya terkenal dengan rasanya yang asin dan pedas berani . Beberapa kuliner yang paling diincar adalah dari Rawon hingga rujak Cigur. Tak hanya itu, salah satu makanan tradisional yang populer seperti lontong balap masih menjadi pujaan banyak orang.

3. Bandung memiliki banyak pilihan wisata alam yang menarik serta banyak pilihan kuliner khas yang siap memikat lidah Anda. Jangan lewatkan menu khas Bandung dan Sunda seperti Mie Kocok, Batagor, Bakso Achi, Seblack, Cireng, Nasi Buluh, Caredok, Lotek Macan, Korenak, lembang Susu Kedelai, Peyeum.

4. Semarang tentunya tidak terlepas dari beragamnya ragam makanan unik dan lezat yang bisa dicicipi di kota ini. Sebut saja Soto Ayam Semarang dengan kuah kecoklatan yang kaya akan bumbu, Tofu Dread Rock (Tahu Gimbal) Saus Kacang, Nasi Pindang, Tahu Pong, Nasi Ayam Semarang, dan tentunya Bandeng Presto. Banyak restoran legendaris yang menawarkan menu klasik dengan cita rasa yang tetap terjaga hingga saat ini. Kunjungi Lumpia Gang Lombok, Tahu Pong Gadjahmada, Leker Paimo, Gudeg Mbak Tum, Tahu Gimbal Pak Edi dan masih banyak lagi.

5. Solo Kaya akan wisata budaya, kota ini juga memiliki pilihan kuliner yang akan memanjakan lidah Anda. Misalnya Nasi liwet, Sate Pompon, brambang asem, Tengkleng dan Timlo yang tidak boleh dilewatkan. Cobalah tempat Solo legendaris yang masih eksis hingga saat ini. Misalnya Selat Solo Mbak Lies, Tahu Kupat, Sido mampir, dan Serabi Solo khas Solo dan Timlo Sastro.

6. Jakarta Ibu kota Indonesia memang selalu menarik untuk dikunjungi. Jakarta telah menjadi pusat hiburan, dari pusat pemerintahan menjadi pusat bisnis. Setiap sudut Jakarta penuh dengan makanan lezat, sehingga selalu menarik untuk dikunjungi. Mulai dari Ketoplak, Kerakterrol, Soto betawi hingga Asinan betawi masih menjadi destinasi favorit para pecinta kuliner.

Rabu, 15 September 2010

14 Lakon Wayang yang Sering dipentaskan Dalang Terkenal

Lakon Wayang yang sering dipentaskan Dalang Ternama. Wayang kulit merupakan bagian dari salah kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang pesat di pulau jawa, tidak hanya jawa saja pada perkembangannya wayang sebagai ciri-khas tradisi yang ada di Indonesia. Pada masa dahulu wayang digunakan sebagai media untuk perenungan ruh spiritual para dewa. Beberapa mengatakan bahwa wayang berasal dari kata "Ma Hyang" yang berarti menuju spiritualitas sang Maha Kuasa. Kalau sebagian masyarakat mengetahui Wayang sebagai seni pertunjukan dengan mengandalkan bayangan. Wayang kulit diyakini sebagai embrio dari berbagai jenis wayang yang ada saat ini. Wayang jenis ini terbuat dari lembaran kulit kerbau yang telah dikeringkan. Agar gerak wayang menjadi dinamis, pada bagian siku-siku tubuhnya disambung menggunakan sekrup yang terbuat dari tanduk kerbau.



Wayang kulit dimainkan langsung oleh narator yang disebut dalang. Dalang tidak dapat diperankan oleh sembarang orang. Selain harus lihai memainkan wayang, sang dalang juga harus mengetahui berbagai cerita epos pewayangan seperti Mahabrata dan Ramayana. Dalang dahulu dinilai sebagai profesi yang luhur, karena orang yang menjadi dalang biasanya adalah orang yang terpandang, berilmu, dan berbudi pekerti yang santun. Sambil memainkan wayang, sang dalang diiringi musik yang bersumber dari alat musik gamelan. Di sela-sela suara gamelan, dilantunkan syair-syair berbahasa Jawa yang dinyanyikan oleh para pesinden yang umumnya adalah perempuan. Sebagai kesenian tradisi yang bernilai magis, sesaji atau sesajen menjadi unsur yang wajib dalam setiap pertunjukan wayang.

Sesajian berupa ayam kampung, kopi, nasi tumpeng, dan hasil bumi lainnya, serta tak lupa asap dari pembakaran dupa selalu ada di setiap pementasan wayang. Tapi, karena banyak yang menganggap sesajian tersebut merupakan suatu hal yang mubazir, belakangan ini sesajian dalam pementasan wayang juga diperuntukkan bagi penonton dalam bentuk makan bersama. Berikut ini Lakon wayang yang sering dipentaskan oleh dalang ternama di Indonesia.

  1. Semar Mbangun Khayangan/Semar mbangun Klampis Ireng/
  2. Mudune Wahyu Katentreman
  3. Kunjara Karna
  4. Wisanggeni Lair
  5. Wisanggeni Rabi
  6. Kresno Mantu
  7. Ajuno Bubak
  8. Petruk Dadi Ratu
  9. Banjaran Rahwana
  10. Banjaran Kakrasana
  11. Banjaran Sumantri
  12. Wahyu Makutharama
  13. Kresno Duto
  14. Bimo Suci

Begitulah sedikit perjalanan sejarah singkat Wayang. Dan beberapa lakon wayang yang sering dipentaskan.

Selasa, 17 Agustus 2010

10 Contoh Nama Bayi Perempuan Perpaduan Arab Islami dan Jawa Sansakerta

Inilah beberapa contoh nama bayi yang kami rekomendasikan bagi kalian yang sedang mencari nama untuk buah hatinya. Nama di bawah ini adalah perpaduan antara Arab Islami dengan Jawa Sansakerta lengkap beserta artinya. Nama perpaduan antara Arab Islami dan Jawa Sansakerta ini sangat cocok dipakai oleh bayi perempuan kalian. Berikut nama bayi perempuan Arab Islami dan Jawa Sansakerta beserta artinya yang dikutip dari Kabar Banten.

1. Rahma Aghnia Memiliki arti anak perempuan yang terlahir bersih dan suci yang selalu mendapatkan limpahan kasih sayang.


2. Kahiyang Arkadewi Artinya, anak perempuan yang cantik bagaikan bidadari surga.

3. Kyati Putri Arumi Artinya, Perempuan yang harum dan menawan.

4. Kila Keshwari Artinya, anak yang berkilau dan menyejukkan keluarga.

5. Nakhla Shabira Anak perempuan yang bermanfaat bagi orang banyak dan penuh kesabaran dalam menjalani hidup.

6. Aghniya Tsamara Artinya, anak perempuan yang kelak menjadi orang kaya dan bermanfaat bagi orang banyak.

7. Anastera Calista Artinya, anak perempuan yang cantik pemberian dari Tuhan.

8. Widi Iswara Wasesa Yang memiliki arti anak yang baik hati telah menjadi orang yang terhormat dan mempunyai wewenang.

9. Nandini Permaisuri Artinya, anak perempuan yang patuh kepada orang tua.

10. Kenes Salwa Santika Artinya, anak perempuan yang lincah manis dan membawa kedamaian.

Itulah beberapa rekomendasi nama anak perempuan perpaduan Jawa sansakerta dengan Arab Islami.

Rabu, 12 Mei 2010

Prabu Arjuna Sasrabahu

Prabu Harjunasasrabahu adalah putera tunggal dari Prabu Kartawijaya. Saat lahir ia diberi nama Arjunawijaya. Ia berganti nama setelah ia menggantikan ayahnya sebagai raja Negara Maespati. Gelar itu dia dapatkan karena ketika bertiwikrama, wujudnya berubah menjadi brahala sewu, yaitu raksasa sebesar bukit, berkepala seratus bertangan seribu dan semua tangannya memegang berbagai macam senjata sakti.


Harjunasasarabahu adalah titisan Bathara Wisnu, dia sakti mandraguna dan pilih tanding. Ia juga merupakan raja yang disembah oleh sesama raja. Namun, ia tidak suka menyelesaikan setiap persengketaan dengan peperangan. Ia selalu berusaha menyelesaikan dengan damai, yaitu dengan jalan musyawarah. Selain gagah perkasa dan sangat disegani, ia adalah satria yang sangat tampan, wajahnya sepintas mirip dengan Bhatara Kamajaya.

Suatu saat ia mendapatkan wangsit dari Bathara Narada, bahwa Puteri negeri Magada yang merupakan titisan Bathari Sri Widowati kini dalam pinangan rajaraja dari seribu Negara. Puteri itu bernama Dewi Citrawati. Harjunasasrabahu menjadi gelisah mendapatkan wangsit itu. Ia bimbang, apakah ia harus berperang dan menumpas semua raja dan membunuh ribuan prajurit yang tidak berdosa untuk mendapatkan Dewi Citrawati. Sebenarnya, ia mampu melakukan itu seorang diri, namun hal itu bertentangan dengan hati nuraninya yang cinta damai. Namun bila menempuh jalan perdamaian itu adalah sesuatu yang mustahil.

Sementara di Magada, Prabu Darmawisesa dari negeri Widarba, yang merupakan raja yang sanagt berpengaruh dan ditakuti yang disertai 75 raja sekutunya dan ribuan prajuritnya sudah siap mengepung Magada apabila lamarannya ditolak. Saat Prabu Harjunasasarbahu dalam kebimbangan, datanglah Bambang Sumantri menghadap untuk mengabdikan diri di Negara Maespati. Melihat kesungguhan dan tekat Sumantri, Harjunasasrabahu pun menerima Sumantri tetapi dengan satu persyaratan, Sumantri harus berhasil menjadi utusan pribadinya dan duta Negara maespati untuk melamar dan memboyong Dewi Citrawati ke Maespati.

Sumantri pun menerima persyaratan itu, kemudian ia pergi ke negeri Magada. Dengan kesaktiannya, ia berhasil menumpas raja-raja sekutu Darmawisesa. Saat ia berhadapan dengan Jonggirupaksa adik Prabu Darmawisesa, ia baru menggunakan senjata pusakanya yaitu anak panah Cakrabaskara, yang tiap kali dilepas akan selalu meminta korban terus menerus sebelum dipanggil pulang oleh tuannya. Akhirnya Darmawisesa pun juga berhasil ditakhlukan Sumantri. Seusai bertanding, ia lalu memboyong Dewi Citrawati ke Maespati. Dalam perjalanan mereka, kepercayaan Sumantri terhadap kesaktian Prabu Harjunasasrabahu sedikit tergoyah karena sedikit hasutan Dewi Citrawati yang sebenarnya kurang suka dengan penghargaan yang begitu besar yang diberikan rakyat Magada kepada Sumantri. Sumantri pun menghentikan perjalanannya ke Maespati, dan mengajukan persyaratan kepada Prabu Harjunasasrabahu, agar menjemput sendiri Dewi Citrawati di perbatasan kota sebagai seorang ksatria. Ia akan menyerahkan Dewi Citrawati, jika sang Prabu berhasil mengalahkannya, dan ini untuk meyakinkan tekadnya, bahwa ia hanya ingin mengabdi para raja yang berhasil mengalahkan kesaktiannya.

Harjunasasrabahu pun menyanggupi keinginan Sumantri. Pertarungan yang maha dahsyat memang benar terjadi antara Harjunasasrabahu dan Sumantri di lapangan yang tebentang antara pegunungan Salva dan Malawa, di luar kota Negara maespati. Mereka mengenakan pakaian kebesaran seorang senapati prajurit, menyandang gendewa dan juga menaiki kereta perang kedewataan. Prabu Harjunasasrabahu menaiki kereta perang miliki Dewa Wisnu, sedangkan Bambang Sumantri menaiki kereta perang miliki Prabu Citranggada. Kereta yang dinaiki Sumantri adalah kereta perang milik Bathara Indra yang diberikan kepada prabu Citradarma, raja Negara Magada. Perang tanding itu disaksikan oleh Dewi Citrawati, wanita titis Bhatari Sri Widowati beserta 800 wanita pengiringnya (putri domas), ribuan dayang, lebih dari seribu raja dan permaisurinya, lengkap dengan para patihnya dan hulubalang kerajaan, ribuan rakyat Maespati, jutaan prajurit dari lebih seribu negara dan juga disaksikan oleh ratusan dewa dan hapsari dipimpin langsung oleh Bhatara Narada dan Bhatara Indra yang sengaja turun dari Kahyangan Jonggring Saloka dan Kahyangan Ekacakra.

Keduanya mengeluarkan kesaktiannya dalam perang tanding itu. Sumantri melepas senjata saktinya panah Dadali dan begitu melesat di udara pecah menadi ribuan anak panah, Prabu Arjuna Wijaya pun melepaskan senjata santi panah Tritusta, yang juga pecah menjadi ribuan anak panah. Ribuan anak panah dari keduanya saling bertempur di udara. Melihat pertempuran ribuan anak panah yang tiada akhirnya, Prabu Harjunasasrabahu kemudian melepaskan panah angin, yang menimbulkan angin besar dan menyapu habis semua anak panah tersebut. Sumantri kemudian melepaskan panah Bojanggapasa, yang menjadi jutaan ular naga dan memenuhi area pertempuran.

Prabu Harjunasasrabahu kemudian melepaskan panah saktinya Paksijaladra. Dan muncullah jutaan burung garuda, yang terbang menukik menyambar ular-ular naga dari panah Sumantri. Akhirnya perang itu dimenangkan oleh sang Prabu. Sumantri kemudian meminta maaf kepada Sang Prabu dan mengabdi kepada Harjunasasrabahu dan diangkat menjadi patih dengan gelar Patih Suwanda. Kemenangan Harjunasasrabahu memberi pengaruh besar terhadap wibawanya. Semua orang menjadi yakin bahwa ia benar-benar penjelmaan Dewa Wisnu. Raja yang semua tunduk dan bersekutu dengan Kerajaan Maespati semakin hormat, dan raja-raja yang semula ragu, akhirnya dengan sukarela tunduk dan bersatu dengan kerajaan Maespati.